Monday, 4 June 2012

Guru Masa Kini

guru masa kini
“Saya Prihatin…”
(Meminjam Ucapan SBY dalam menanggapi masalah per-guru-an di Indonesia)

Guru Masa Kini

Keprihatinan makin marak dirasakan dalam diri setiap siswa terlebih bagi para pengamat dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Keprihatinan itu terlebih lagi tertuju pada satu sosok yang sangat sentral dalam dunia pendidikan. Hari-hari akan sepi tanpa hadirnya sosok itu. Banyak orang akan hilang arah tanpa bimbingan darinya. Perkembangan dan kemajuan bangsa juga akan lenyap tanpa bimbingan moral dari setiap kata-kata yang diucapkan menjadi sebuah pemikiran. Semua hal itu jelas tertuju pada satu sosok pahlawan dalam dunia pendidikan, yaitu ‘guru’.

Perjuangan para founding fathers Indonesia–Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Suwardi Surya Ningrat, Syahrir, dan lainnya– tidak akan pernah lepas dari campur tangan guru. Mereka dulunya hanyalah orang-orang yang buta huruf, angka, sekaligus pengetahuan dan pemikiran. Namun, ketika mereka mengenal sosok guru beserta segala ilmu yang diberikannya, mereka dapat tumbuh menjadi sosok-sosok besar pembawa perubahan dalam segala aspek bangsa. Pemikiran-pemikiran revolusioner yang mereka hasilkan dan bagikan bagi golongan muda, salah satunya muncul buah interaksi mereka dengan guru. Oleh sebab itu, kemerdekaan tahun 1945 tidak akan pernah tercapai tanpa hadirnya seorang guru.

Kekontrasan muncul justru di era pasca kemerdekaan Indonesia. Di dalam era kemerdekaan, yang seharusnya membuat guru semakin punya kesempatan untuk mengembangkan dan memperlengkapi diri, beberapa guru justru memperlihatkan ketertinggalannya, setidaknya itu yang saya rasakan. Sebagai contoh, mereka hanya melakukan cara-cara kuno dalam mengajar. Mengajar dengan menulis di papan tulis, memberi catatan yang didiktekan, memberikan tugas rumah yang tidak manusiawi, hingga ulangan-ulangan harian yang cenderung membuat siswa menjadi stress, tanpa siswa memahami maknanya.

Kekerasan fisik juga sarat dengan pendidikan Indonesia seperti yang banyak ditemui dan menjadi rumpunan fakta yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Salah satunya adalah seperti yang pernah dialami oleh seorang siswa SD di Solo yang dianiaya oleh guru olahraganya pada tanggal 31 Oktober 2007. Inilah gambaran kaum pendidik yang jelas diragukan, namun masih banyak berkeliaran untuk membodohi dan menghancurkan masa depan bangsa yang telah berjanji untuk mencerdaskan masa depan bangsanya seperti yang tertera dalam pembukaan UUD ‘45.

Metode mengajar di depan kelas dengan hanya mengandalkan buku pelajaran dan papan tulis adalah hal yang paling menyenangkan bagi setiap guru konvensional itu. Hal itu mereka pilih karena memang paling mudah tanpa perlu repot-repot mempersiapkan sebuah pengajaran yang menarik. Sebagai contoh dalam pelajaran biologi, guru yang hanya mengajar mengandalkan buku biologi kebanggaannya dan diakhiri dengan mencatat di papan tulis sebagai catatan para siswa untuk mempersiapkan ujian pada pertemuan berikutnya tentulah tidak akan menghasilkan murid-murid yang tertarik untuk mengembangkan ilmu ini. Tidakkah mereka pernah berpikir bahwa hal itu tidak cukup efekif dalam mendidik para siswa. Bukankah sebenarnya mereka bisa mengajak para siswa berkunjung ke kebun bintang (seperti Ragunan) saat sedang membahas pelajaran yang berhubungan dengan Taksonomi (salah satu cabang ilmu yang berhubungan dengan penamaan dan pengelompokan hewan secara latin). Carolus Linaeus, sang ahli yang kita kenal sebagai bapak Taksonomi, juga dulunya melakukan pengamatan langsung ketika meneliti hal-hal tersebut. Selain itu juga mereka bisa membawa para siswa ke sebuah tempat yang dipenuhi asap dan polusi (seperti jalan raya yang dipadati kendaraan) saat sedang mempelajarai tentang polusi udara. Dengan merasakan sesaknya napas dan kepulan asap yang mengganggu pernapasan serta penglihatan, para siswa akan sadar untuk lebih peduli dengan lingkungan yang mereka tahu telah rusak ini.

Ketidak percayaan terhadap guru juga terkadang mewarnai kegiatan belajar mengajar antara siswa dengan guru, salah satunya disebabkan ketika seorang guru tidak dapat menjelaskan dengan baik tentang materi yang sedang ajarkannya. Hal itu terjadi kebanyakan pada guru-guru muda yang tidak menguasai materi secara mendalam, namun tidak menutup kemungkinan pada guru-guru tua yang tidak mau meng-up date diri dengan ilmu pengetahuan yang tidak pernah berhenti berkembang ini. Seorang siswa yang berpengetahuan luas dan haus pengetahuan cenderung akan bertikai mulut untuk mengajukan argumen yang pada akhirnya akan memojokan guru berpengetahuan terbatas tersebut sehingga siswa yang lain pada akhirnya akan ikut-ikutan mencela guru-guru semacam itu. Memang para guru selalu menasehati murid dengan berkata bahwa buku adalah sumber ilmu, namun sebenarnya tidak semua guru menyadari bahwa mereka sendiri jarang sekali membaca buku untuk terus berkembang mengikuti ilmu-ilmu yang bergerak dinamis.

Pendidikan yang ditabur oleh kebanyakan guru periode ini juga nyatanya tidak dapat membuat ilmu itu menjadi hal yang pada akhirnya dapat dipergunakan oleh setiap para hasil didikannya untuk menolong sesama lewat apapun cabang yang mereka geluti. Sebagai contoh, seorang dokter lulusan sarjana kedokteran yang dianggap sebagai orang terdidik dan cerdas, nyatanya hanya mendedikasikan dirinya untuk uang semata. Setiap hari ia memerikasa pasien hanya untuk mendapatkan uang yang banyak agar modal-modalnya–uang kuliah, buku-buku kedokteran, alat kedokteran– dapat cepat kembali dan keuntungan besar dari profesinya dapat ia rauk untuk kepentingan pribadinya semata. Dedikasi pada uang itulah yang jarang, bahkan tidak pernah dibongkar dan disusun ulang oleh insan pendidik seperti dosen kedokteran, contohnya, kepada mahasiswa kedokteran yang diajarnya. Yang ditanamkan oleh para pendidik kepada siswanya adalah bagaimana bisa menjadi orang sukses dengan ukuran materi, namun dedikasi pada pekerjaan yang seharusnya ditujukan untuk membantu orang-orang yang kesulitan dan membutuhkan nyatanya dikesampingkan. Nilai-nilai moral dan kehidupanlah yang seharusnya dibentuk dan dibangun pada setiap bibit penerus masa depan bangsa agar pada akhirnya setiap kaum yang menyatakan dirinya telah terdidik dapat mempunyai visi dan misi yang jelas diimbangi dengan dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi pada apapun pekerjaannya.

Kebanyakan guru beranggapan bahwa gaji mereka terlalu kecil dibanding pengorbanan yang mereka lakukan hingga mereka sering melakukan tindakan protes melalui berbagai cara, mulai dari protes secara verbal, protes melalui media –seperti Facebook, Twiter, dan lainnya–, atau bahkan terkadang turun ke jalan untuk berdemo. Apakah sebenarnya seburuk itukah gaji guru-guru hingga mereka harus melakukan hal itu? Apakah dengan gaji mereka yang katanya minim itu, mereka tidak dapat bahagia dalam hidupnya? Seorang guru yang menjadi salah satu guru terfavorit dalam hidup sayalah yang pada akhirnya dapat membuat saya dapat menjawab kedua pertanyaan di atas. Dalam satu bulan beliau hanya memperoleh gaji yang terbilang minim dibandingkan dengan gaji guru-guru sekolah swasta pada umumnya, begitu pula yang dirasakan oleh suaminya yang masih bekerja satu instansi pendidikan dengannya. Gaji yang minim itu harus beliau gunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga dan juga kebutuhan kedua orang anaknya yang umurnya terbilang masih kecil sehingga butuh biaya banyak. Kita semua tahu bahwa hidup di Jakarta dengan hanya mengandalkan gaji seorang guru nampaknya sangat berat. Di tengah keterbatasan keuangan yang beliau rasakan, belum pernah saya dengar beliau mengeluh satu kata pun mengenai gaji yang minim, sebaliknya, beliau dengan hati seorang guru, melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang guru dengan penuh dedikasi dan hati yang tulus. Bayangkan saja, beliau rela mengajar kami di luar jam pelajaran sekolah jika kami belum mengerti ataupun dikala kami akan mengikuti sebuah lomba antar sekolah. Ia rela pulang larut sore, bahkan malam, demi mengajar kami, padahal tidak ada sepeser pun uang tambahan yang beliau dapat dari sekolah. Beliau pernah berkata pada saya bahwa melalui mengajar sebuah kepuasan dapat diperoleh. Beliau juga menambahkan bahwa ketika ia melihat seorang siswa memberikan tanda-tanda kemajuan dalam pelajaran, entah itu lambat ataupun pesat, hal itu membuat beliau menjadi puas dan merasa berguna bagi para siswa yang diajarnya. Sosok guru seperti itu sebenarnya dapat menjadi contoh bagi para guru yang hingga kini masih merasa bahwa gaji adalah segalanya ataupun para guru yang masih menganut sistem keseimbangan antara hak dan kewajiban (dalam konteks ini adalah pengorbanan yang dilakukan harus sebanding dengan uang yang diperoleh). Sosok guru di atas telah menunjukan bahwa kepuasan sebagai seorang guru bukan diukur dari seberapa banyak uang yang bisa ia peroleh, melainkan dari seberapa banyak ia dapat berguna bagi para siswanya. Sosok guru di atas juga mengajarkan bahwa kepuasan sebagai seorang guru tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi bisa dibeli oleh satu hal yaitu ketika setiap siswa yang diajarnya benar-benar menikmati pelajaran yang ia bawakan. Oleh sebab itu, sebagai seorang guru sudah sepantasnya mengutamakan hati yang tulus dan mengesampingkan uang sebagai prioritas utama. Jika seorang mengajar dengan hati yang ketulusan, pastilah apa yang ia ajarkan pada akhirnya akan sampai juga ke dalam hati orang-orang yang diajarkannya, sehingga ilmu itu tidak hanya sekadar lewat, namun dapat membekas dan berguna bagi setiap siswa.

Menatap buruknya mental seorang guru yang mencabik-cabik pendidikan bangsa itulah yang seharusnya dapat membukakan sekaligus menyadarkan bahwa pendidikan Indonesia butuh perubahan besar dari orang-orang yang mengelolanya. Kaum pendidik sudah sepantasnya memiliki hati dan jiwa sebagai seorang pendidik yang mau dan rela merendahkan diri untuk melayani dan berkorban bagi setiap siswa dalam hal waktu, tenaga, bahkan materi. Dari hal itulah setiap siswa dapat melihat bukti nyata totalitas dan dedikasi besar yang pada akhirnya dapat mereka contoh di hari-hari mendatang ketika mereka telah memiliki sebuah profesi. Kaum pendidik juga dituntut untuk mengembangkan diri dan kreativitasnya dalam membawakan sebuah ilmu yang ia geluti sehingga ilmu itu bukan hanya menjadi sekadar teori namun dapat menjadi nyata terlihat manfaatnya. Sudah sepantasnya juga melalui kesempatan menjadi seorang pendidik, nilai moral (contohnya Pancasila) yang tinggi menjadi hal utama yang ditanamkan kuat dalam setiap lubuk hati para penerus bangsa, sehingga setiap penerus bangsa memiliki karakter kuat untuk membuat sebuah paradigma baru yang revoluioner dalam segala bidang, terkhusus pendidikan, yang pada akhirnya dapat menjawab kebuntuan-kebuntuan yang sempat tertunda untuk terjawab dimasa-masa sebelumnya tanpa mengesampingkan nilai moral, dedikasi, dan pengabdian yang tulus itu sendiri.

Salam anak bangsa yang rindu adanya perubahan.

Artikel: "Guru Masa Kini"
Karya: Jeremy Teja Sanger (SMA Kristen Ketapang 1 - Bekasi)

0 comments: "Guru Masa Kini"

Post a Comment